Selasa, 10 Februari 2009

Benjamin Button

Pagi ini nonton dvd bajakan the curious case of Benjamin Button, tertarik karena di tv dikatakan film yang dibintangi Brad Pitt dan Cate Blanchet ini mendapat belasan nominasi oscar. Konsep ceritanya sih standar tapi lumayan menginspirasiku.



Cerita dimulai dari Daisy yang sudah tua meminta anaknya membacakan buku harian Benjamin button, seorang anak yang terlahir dengan raga yang terbalik, dia lahir dengan raga orang tua renta dan seiring berjalannya waktu dia akan semakin muda. Sampai membuat aku kembali teringat konsep lama, kenapa kita jarang sekali berpikir terbalik? Menceritakan kehidupannya dari kecil (dengan raga tua renta) sampai di tua (dengan raga bayi), kehidupannya, petualangannya, dan tidak luput tentang kisah cintanya.


Aku jadi berpikir ketika film itu menceritakan bagaimana Daisy tertabrak mobil, kira-kira begini narasinya “ Kita terkadang tidak tahu apa yang akan terjadi, ada seorang perempuan yang hendak keluar rumah, setelah diluar dia lupa membawa jaketnya lalu dia kembali ke rumah mengambil jaket, sampai di luar dia mencari taksi, taksi berhenti tetapi ada orang lain yang menyerobot masuk, lalu dia salah naik taksi yang sudah dipesan orang sebelumnya, di lain pihak Daisy baru selesai mandi dan mau keluar dengan temannya, baru kelur tiga langkah dari pintu, taksi yang ditumpangi perempuan tadi menabrak Daisy, gara-gara perempuan tadi lupa bawa jaket, gara-gara taksi pertama diserobot orang, gara-gara salah naik taksi, sepersekian detik yang terlambat itulah yang membuat daisy tertabrak, hidup memang unik tampaknya ada grand design untuk setiap detik hidup kita”.


Karena bagian scene itu aku jadi teringat tulisan Harun Yahya yang mengatakan bahwa apa yang kita lihat hanyalah sinyal listrik yang sampai ke otak kita, matahari yang jauh disana sebenarnya ada di dalam otak kita, coba tutup mata, apa yang terjadi? Setelah diteliti otak bekerja hanya berdasar sinyal elektrik yang sampai ke otak yang lalu akan ditafsirkan dengan berbagai macam bentuk oleh emosi manusia, yang kita lihat dengan mata, yang kita sentuh dengan kulit, yang kita dengar dengan kuping, yang kita baui dengan hidung dan yang kita rasa dengan lidah, semuanya hanyalah sinyal listrik yang sampai ke otak kita sepersekian milidetik. Dari tulisan itu aku ikut-ikutan berpendapat mungkin kita sebenarnya berada pada koordinat nol. Artinya sebenarnya kita ini hidup dalam 4 dimensi yang konstan tidak bergerak, kita bergerak karena otak merasa kita bergerak, kita bercinta hanya karena otak berpikir begitu, kita menjadi kaya hanya karena perasaan puas yang kita rasakan, sehingga sebenarnya ruh dalam tubuh kita hanya terletak pada satu titik konstan (pusing kan). Yang jelas karena hidup cuma sekali maka rugi kalau hanya tinggal di Indonesia, hanya bertemu dengan orang yang sama tiap hari, hanya diam di palembang atau dimanapun kamu berada, hidup milik kita, nikmati apa yang harusnya bisa kita usahakan selebihnya biarkan jadi rahasia tuhan, terkadang semua pertanyaan tidak memerlukan jawaban.

1 komentar: