Senin, 16 Maret 2009

Kalo Tidak Bobo Dicubit Ayas Agepty

Setiap manusia butuh tidur, dari salah satu artikel yang pernah kubaca dikatakan kalo manusia tidak tidur dalam 72 jam dijamin halal pasti manusia itu klo ngga’ mati maka akan dinobatkan menjadi dewa melek. Pada waktu tidur otak bekerja untuk menset ulang memori yang sudah terkumpul siang hari dan otot melemaskan sel2nya sehingga kita dapat bangun menjadi manusia hemaviton jreeng sepenuhnya. Itu teorinya. Faktanya? Beda banget dengan kejadian yang kualami beberapa jam yang lalu.


Sore menjelang malam rumahku didatangi dua orang bocah ingusan (si putra dan si hanif) yang masih berstatus anak esde dan sejak lahir sudah resmi menjabat sebagai sepupu ayas tasli wiguna, seekor manusia langkah yang perlu dilindungi. Katanya mereka mau nginep di rumah ortuku karena menjalankan kewajiban kunjungan bulanan memantau perkembangan kakak sepupunya yang nampaknya memang perlu dilestarikan ini. Habis makan sebaskom dan mata melototin tipi yang ngga’ melototin mereka, nampaknya dua orang bocah persilangan bonsai jepang dengan pohon cabe itu udah mulai ngantuk. Lagi asiknya nonton di kamar, mama masuk

Mama : yas, kamar geral kan ngga’ cukup untuk tidur tiga orang, pilih deh si putra tau si hanif yang tidur di kamarmu

Aku : (mikir ’si putra klo tidur pake acara ngorok gorilla’) yawdah suruh si hanif aja yang masuk ma!

Mama : nif tidur sini aja

Datanglah si hanif dengan jalan mirip zombie di film haouse of the dead, mata merah setengah ketutup dan badan sedikit membungkuk. Langsung banting badan ke kasur kesayanganku. Sementara aku masih anteng2 aja nonton tipi di kamar, eh ternyata cecunguk satu itu ngorok juga, berhubung dia 4 tahun lebih muda dari si putra, kita sebut saja ngorok orang utan (penting banget). Berhubung aku orangnya baik dan hapal al-fatihah maka ‘biar deh, sekali2, udah lama ngga’ tidur dengan anak kecil’ kata otakku waktu melihat si hanif tidur dengan wajah polos seperti bayi. Bayi orang utan. Jam dinding terus bergerak dan menujukkan pukul 11.49 malam, karena malam itu ngga’ ada jadwal maling kolor tetangga, aku memutuskan untuk tidur lebih awal biar seger pagi harinya. Waktu lagi enak2nya mimpi entah mimpi apa tapi enak banget dan bukan mimpi jorok, ternyata baru jam 12.40, mengapa ayas kebangun mendadak? Ternyata si hanif mengigau dalam mimpinya dengan suara mirip toa ‘jangan ma… jangan ma… ampun’ sambil tendang sana tendang sini.

Aku: hei nif, jangan ngigau nif (goyang2in badan si hanif)

Si hanif: ng..ng..ngngngng (mata kebuka seperempat sambil mangap)

Aku: berenti ngigau, tidur yang tenang, jangan tendang2! (sedikit dongkol)

Si hanif: ngggg…. Groookk…

Suasana kembali diiringi nyanyian kodok versi si hanif. Tidak lama berselang, terulang lagi adegan jerit dan tendangan tanpa bayangan wong fei hung dan kali ini tepat mengenai sasaran. Kepala ayas. Sempurna.

Aku: bangun… bangun… (nyubit si hanif sedikit… banyak siy sebenarnya mumpung dia ngga sadar, hehehe…)

Si hanif: ngggg… (merasa tangannya ditarik ke atas langsung buka mata)

Aku: pindah ke kamar kak geral aja, disini banyak nyamuk (akal licik keluar)

Si hanif: ngggg…

Dalam keadaan tak sadar si hanif dituntun dengan paksa ke kamar geral.

Aku: tidur sana… (mampus lo ral, langsung senyum antagonis)

Sampai di kamar dengan riang gembira melihat kasur tercinta yang seolah2 berkata’ yas, tiduri aku sekarang!’, aku merebahkan badan. Memejamkan mata bersiap2 menyambung mimpi indah yang terputus maka matapun terpejam. Akan tetapi, otak masih melihat warna hitam. Bagus. Sekarang ngga’ bisa tidur lagi.


Nb: jangan pernah berharap menjadi sepupu ayas, pokoknya jangan!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar