Sabtu, 28 Maret 2009

JaTangPaBoJaLamPal (Part I: Jakarta)


Pertama2 aku ngucapin belasungkawa sedalam2nya atas musibah yang menimpa warga tangerang yang mengalami bencana jebolnya waduk situ gintung kemarin. Semoga ahli musibah diberi ketabahan dan kesabaran oleh tuhan yang maha kuasa. Amin ya robbal alamin. Silahkan berdoa sesuai agama dan kepercayaannya masing2. Berdoa mulai!

Okay, melanjutkan cerita sebelumnya. Pagi hari yang cerah di tanah jawa, ibukota negara tercinta Indonesia raya, Jakarta, di rumah cik didi yang terletak pada salah satu koordinat daerah tanjung duren. Entah kenapa namanya tanjung duren, mungkin dahulu kala ada siluman duren yang selalu menteror warga dengan bau menyengatnya dan ketika sang siluman duren sedang tidur, dia diikat dan diarak warga lalu dibuang ke laut, selanjutnya untuk menghormati isterinya yang manusia biasa maka warga memberikan tunjangan tiap bulan kepada sang isteri siluman (namanya juga mungkin).

Hari itu yang aku lakukan hanya istirahat seharian di dalam rumah, rasanya seluruh tulang mau keluar dari kulit tipisku, cape kuadrat secapek2nya. Enak banget rasanya rebahan di kasur zaki dan imam dengan manja, lebih tepatnya menggusur sepupu sendiri dari kamar mereka ketika sang papa bilang ‘adek sama kakak tidur di kamar papa aja’.

Besoknya siap2 ketemu dengan bubu. Yup, nambah satu lagi tokoh ceritaku, let mi tel yu: bubu adalah teman sms-anku, asalnya teman si nanda, lalu nanda kenalkan denganku lewat operator im3, jadilah kami berteman, kadang saling curhat tentang pasangan masing2, kadang saling kata/ejek/sindir, kadang saling lempar batu/sandal/hape (emang bisa?), udah lama kenal tapi hanya lewat lss (layanan surat singkat) dan obrolan telepon (lebih banyak miskol siy), sesekali liat update fsnya, dan akhirnya, hari ini, bisa juga ketemuan. Dia kuliah di trisakti, kebetulan banget kan kampusnya dekat dengan citraland alias mal ciputra yang tidak jauh dengan rumah cik didi. Dengan berat hati hari itu aku mandi, sampoan, cukur kujeng alias kumis dan jenggot, pake deodorant rexona power extreme protection men warna ijo (penting abis), lalu semprot minyak wangi, pake maskara, bulu mata palsu dan tidak lupa lipstik merah kesayanganku (engga’ dong itu kan dandanan malamku di palembang,yuuk!).

Aku : te aku mau ke citraland, naik apa ya?

Tante ratna : ciye yang mau ngedate, naik angkot 32 aja (kayaknya itu nomor angkotnya, yang jelas angkotnya stop di terminal samping citraland)

Setelah menghapal rute PP yang dijelasin tante ratna, aku pun pergi dengan semangat 44 (jumlah parpol pemilu). Benar kata orang, Jakarta itu udah super duper koper panas, sumpek, sesak lagi. Rutenya ngejelimet dan sempit, mudah-mudahn inget jalan pulang :y

Tak lama kemudian sampai di terminal, terus jalan lurus, ketemu juga citraland.
‘halo, aku udah di citraland ne, kamu dimana bu?’ aku telpon bubu

‘ntar lagi juga sampe, tunggu ya yas!’ suara bubu dari seberang sana

‘sep…sep..’

Sepuluh menit kemudian
‘yas aku udah di depan pintu masuk citraland ne, kamu dimana?’

‘aku di lantai bawah, kamu pake baju apa?’

‘kuning’

‘yawdah aku kesana’

Dalam perjalanan ketemu temen ½ imajiner itu aku sempet2nya:
1. ‘waduh gimana ne first impression biar ngga’ malu2in?’ pikirku
2. ‘anaknya gimana sih sebenernya, jangan2 tokai berjalan lagi?’ ngayal karena grogi
3. (cium ketek), ‘sep udah wangi’. (mangap depan telapak tangan), ‘sep bau naga’.

Ooooooooooo (bulet), ternyata ini yang namanya bubu, orangnya kecil beda dengan yang di foto (bener kata CIA, foto fs itu bisa menipu), selanjutnya kegiatan siang itu dibuka dengan kenalan secara formal, makan di mc’donald (aku ngelahap cheese burger kayak orang ayan kesurupan, bubu makan spageti dengan table manner sempurna, bener2 bagai bumi dan awan), ngobrol (cerita panjang lebar tentang kehidupan kami yang jauh berbeda, dia menjalani hidup layaknya manusia, tidak sepertiku yang menjalani hidup layaknya setengah manusia dan setengah binatang, cerita tentang keberuntungan yang kualami selama di bali sampai jakarta, pokoknya seru deh percis 2 orang vampire cewek yang udah dua abad ngga’ ketemu terus ngegosipin ratusan cowok yang pernah mereka tiduri. Intinya seru.), dilanjutkan nonton laskar pelangi (sumpah, dia nonton sambil ngupil), dan akhirnya ditutup dengan sesi foto untuk kenang-kenangan.

‘yas, fotonya jangan dimasukin fs ntar cowok gua cemburu’, pintanya seakan2 itu foto mesum kami berdua di sebuah hotel di bilangan jakarta.

‘oke deh, paling2 untuk bahan nyantet doang’, aku nyengir tapir menunjukkan gigi kuda yang nongol ngga’ ketulungan.

Berhubung bubu ngga’ kemakan bujuk rayuku untuk bolos kuliah, akhirnya kami berpisah seperti adegan film kera sakti (waktu patkai menghianati tong sam cong). Lepas dari semua hal yang berbau ketek, that was really sweet things with my best friend. I’ll never forget that, bu. Bubu keluar mal dengan tampang pucat karena baru sadar kenapa dengan gobloknya jalan sama peranakan kuda sumbawa dan monyet afrika sedangkan aku mau jalan2 dulu ngiterin mal dengan berlinang air mata dan ingus yang mengalir sampai mulut. Benar2 hari yang indah.

Sekian dulu, cerita part II akan hadir di layar monitor kompi anda tepat ketika matahari terbit dari barat. Thx for your reading :)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar