Jumat, 20 Maret 2009

Suatu Pagi


Di suatu pagi yang cerah… ketika matahari belum bekerja (di palembang, matahari buka jam 9), bangunlah seorang anak dengan muka kuda sumbawanya, ia mengelap iler dengan anggun sekali layaknya penari balet yang sedang memerankan cerita snow white ketika bangun dari tidur panjangnya dan menyadari peti matinya udah penuh dengan iler. Pagi itu adalah pagi yang sangat berbeda dari pagi2 sebelumnya, selama aku menghirup udara bumi tidak kurang dari 22 tahun belakangan. Apakah yang terjadi?
a.ada cewek di sampingku yang bilang ‘pagi mas, makasih banget untuk kejadian semalem, aku sampe orgasme 3 kali. Lup yu, mmuah’(sambil cium jidat lebarku dengan mesra)

b.aku kaget ternyata badanku sangat berisi dan berbentuk percis binaragawan profesonal: dada membidang, perut six pack, dan pantat berlubang (lho?). Ternyata cita2ku tercapai, aku jadi spaidermen.

c.aku melihat semuanya serba putih, langit2 putih, dinding putih, tiba2 datang seorang cewek yang sangat cantik ke arahku. ‘siapa yang bawa aku ke rumah sakit sus?’tanyaku dengan suster itu. ‘rumah sakit? Kamu lupa lagi ya? Ini aku pa, isterimu yang ke-1874 di surga firdaus ini’ jawabnya. Subahanallah, aku masuk surga.

Dan jawaban yang benar adalah a. Kenapa? Mau tau alasannya? Mari kita tanya Galileo… (inget ngga’ dengan acara itu?)


Okay… Okay… Sedikit berlebihan tapi jawaban a memang bener, akan tetapi bukan cewek putih, tinggi langsing, dan dada besar yang kumaksud, yang ada di sampingku adalah seekor ikan mas koki. Sekali lagi aku tekankan, IKAN MAS KOKI. Ceritanya bermula dari nonton film kambing jantan dan baca salah satu artikel di internet yang bilang kalo memiliki hewan peliharaan itu dapat menghilangkan stress. Berhubung aku ini sering stress, misalnya, waktu ngga’ ada duit aku stress, waktu mau ujian aku stress, dan waktu deketin cewek aku juga stress. Terdengar wajarkan tapi masalahnya aku butuh duit buat beli pulau, aku ingin lulus ujian kebel senjata malaikat pencabut nyawa, dan cewek yang aku taksir adalah ayam tetangga. Yang jelas, aku sering stress terhadap sesuatu yang imajiner dan tidak bisa distresskan. (Yang bingung silahkan angkat tangan!).

‘bener juga, kenapa aku ngga’ coba punya peliharaan yah’ terlintas ide cemerlang ketika muncul lampu petromak dari kepalaku.

‘Tapi enaknya pelihara apa ya? Mau pelihara cewek entar disangka kumpul kebo, mau pelihara tuyul entar disangka persugihan, mau pelihara dinosaurus uangku ngga’ cukup. Yawdah, aku pelihara ikan mas koki aja’ aku membatin.

Maka berangkatlah aku pada siang hari itu, tanggal 19 maret 2009 untuk menunaikan ibadah haji di kota mekah (nyambung banget). Jadi, hari itu aku pergi ke pasar buah untuk mencari ikan mas koki, untungnya seorang pedagang mangga disana bilang kalo mau beli ikan aku harus ke toko bangunan. Sesampainya disana aku pun membeli ikan mas koki yang sangat imut, bukan anakan, bukan juga ikan dewasa, pokoknya pas umurnya untuk dipelihara. Mungkin ibarat mengadopsi anak, aku ambil yang masih balita. Setelahnya aku beli aquarium (baca:toples) bulat di pasar ikan hias sebagai tempat persemayaman ikan mas kokiku tercinta lalu tentu saja pulang karena hasrat sudah menggebu2 untuk menempatkan mas koki itu ke tempat seharusnya dia berada. Waktu turun dari angkot, sang kernet ngga’ mau nerima uang dariku padahal ongkosnya kulebihi 500 perak, baikkan aku :D ‘ngga’ usah bayar kak’ kata si kernet. Eyalah, ternyata kernet itu adalah adik tingkatku waktu esema. Gile bener, baru dibeli aja ikan ini udah bawa keberuntungan, sempat terlintas di otakku untuk naik pesawat ke paris esok hari sambil bawa mas koki ini, siapa tahu kernetnya temen sepermainanku waktu kecil. ‘eh, kamu. Makasih deh klo gitu’kataku sedikit kaget. Dia pun pergi sambil tersenyum lalu bilang ‘brrrrrangkat lai!!!’. Dunia memang kejam, padahal waktu esema dia cukup pintar. Paling2 dia jadi kernet karena orang tuanya ngga’ mampu ngebiayain kuliahnya. Semoga nasibmu berubah jauh lebih baik bro. (kebetulan namanya combro).

Tiba di rumah, aku langsung buka kardus, mau ngeluarin aquarium mini itu dan langung masukin mas koki itu ke dalamnya.

‘loh? Tumben beli ikan yas. Mau digoreng?’tanya mamaku

‘dipelihara mama’

‘ayas.. ayas.. buang2 duit aja’

‘nggalah ma, melihara ikan itu dapat menghilangkan stress’

‘stress? Kamu ini kayak orang tua aja. Paling2, entar ikannya mati lagi kayak si luki. Terserahlah, mama mau narik becak lagi’ bantah mama

‘bodo’’ aku sewot

Jadi keinget sama si luki. Bukan, luki bukan ikan, beliau adalah siamang, sejenis kera tak berekor. Waktu itu aku masih imut2nya, masih esema, ayah pulang dari kerja luar kota membawa oleh2 seekor siamang. Keesokan harinya kami membuat kandang bersama.

‘kandangnya udah jadi niy yas. Kira2 perlu ngga’ kita kasih nama siamang ini?’ ayah nanya

‘perlu banget yah. Manusia aja dipanggil tuhan di akhirat sesuai namanya’ jawabku.
Ngga’ lucu kan kalo siamang itu ngga’ punya nama dan tiba2 di akhirat tuhan bilang “coba siamang yang ngga’ bernama yang dipantatnya ada panu itu, maju ke depan!”.

‘jadi siapa namanya kira2?’ ayah nanya lagi

‘luki’ jawabku lagi dengan mantap. ’karena dalam bahasa inggris luki artinya beruntung (untung ayahku ngga’ bisa bahasa inggris) dan dalam bahasa ibrani artinya tolong (diharapkan sang siamang menjadi alarm alami kalo ada maling)’sambungku.

‘baiklah’ kata ayahku dengan tampang ngga’ percaya sedikutpun dengan alasaanku.

Hari demi hari kami lewati bersama dengan luki, kalo bukan aku maka adik pertamaku, dyad, yang memandikan si luki dan memberinya makan setiap hari. Pernah suatu ketika, saat itu aku lagi menggendong luki jalan2 di depan rumah, luki memandangku dengan tatapan kagum, akupun membalas dengan tatapan mesra, lalu akhirnya kamipun berciuman dan tak lama kemudian kami menikah dan memiliki dua orang anak yang lucu2, kami hidup bahagia selamanya sampai hari kiamat datang (kedengarannya terlalu ekstrim). Yang sebenarnya terjadi luki melihatku dengan tatapan sayu, aku merasa dia sakit tapi aku ngga’ tau dimana rumah dokter hewan. Masa harus datang ke dukun beranak di belakang rumah. Malamnya aku cerita ke keluarga tentang kondisi luki.

‘yah, kayaknya luki sakit deh’

‘iya kak, aku juga ngeliatnya murung terus dari pagi tadi’ dyad nyetrum kayak pelir,eh maaf, petir maksudnya.

‘yawdah besok kita cek aja ke rumah sakit’ jawab ayah

‘rumah sakit hewan?’ tanyaku ragu

‘emang hewan ada rumah sakit khusus gitu?’ayah nanya. GUBRAK.

‘jangan2… gara2 kak ayas mencret kemarin pagi’ dyad nuduh

‘apa hubungannya?’aku bingung

‘waktu aku mau mandiin luki kemarin pagi, aku liat luki muntah2, pas banget waktu kak ayas lagi boker di wc (kandangnya di samping wc), dari suaranya siy mencret gitu, dari baunya ngga’ perlu diomongin. Mungkin karena hidungnya luki ngga’ sanggup menahan bau menyengat itu jadi dia mabok dan akhirnya sakit deh’ dyad menjelaskan panjang lebar dengan sotoynya dibarengi dengan gelak tawa semua orang di ruang keluarga.

‘sialan… jangan sotoy kamu yad. Lagian orang boker masa baunya harum semerbak’ aku membela diri walau dalam hati mengiyakan kalo saat itu aku mencret ngga’ ketulungan sambil menggunakan masker anti gas beracun milik fbi.

Keesokan harinya, luki sudah berpulang ke rahmatullah. Semua orang sedih, aku, dyad, ayah, mama, geral, udin (loh? Udin kan orang gila di depan lorong). Setelah dimandikan, dikafani, dan didoakan oleh warga kampung, kami pun menguburnya ke pemakaman terdekat. Di bawah pohon jambu di samping rumah. Sempat terlintas di pikiranku ketika melihat nisan luki ‘mungkinkah dia mati karena menghirup bau bokerku? Tapi yang membuatku bahagia adalah semua ruh siamang di akhirat kelak tidak akan tahu kalo di pantat luki ada panu’.

Setelah peristiwa itu entah mengapa setiap binatang yang kami pelihara tidak akan bertahan lama. Misalnya: waktu melihara burung murai, si murai terbang menghilang, entah bagaimana caranya dia membuka pintu sarangnya. Waktu melihara kucing, si kucing hilang begitu saja, mungkin dia diajak kawin lari sama pacarnya. Waktu melihara merpati, gerombolan merpati itu lenyap, mungkin ditembak tetangga ato migrasi ke cina.

Sekarang, seperti anda ketahui sebelumnya, di rumah ada seekor murai batu yang cantik jelita (ato mungkin tampan rupawan), daaaaan sekarang datanglah seekor ikan mas koki yang sangat imut menggemaskan. Pokoknya peliharaan kali ini harus survive (lagu i will survive terngiang di kepala).

Sambil melihat ikan mas koki tercinta aku pun berpikir harus dikasih nama siapa ikan imut ini? Maka, kurang dari lima detik langsung kuberi nama kambing. Beetuul, aku ngasih nama ikan mas koki itu: KAMBING. Alasannya karena aku terinspirasi dari nonton film kambing jantan. Jadi, di dunia ini cuma ikan mas kokiku yang namanya KAMBING. It sounds cool right??? :D

Sekarang memang si kambing masih miskin karena belum kubelikan rumah2an dan aksesoris lainnya untuk dimasukkan ke dalam aquariumnya selain batu2an ngga’ jelas, maklum untuk membebaskan si kambing dari majikannya aja aku harus menghabiskan uang jajanku sepuluh hari (cuma dapet bonus batu lagi), ditambah lagi harus membeli aquariumnya, jadi setelah dihitung2 pake sempoa ternyata aku sudah menghabiskan uang jajanku selama 1 bulan.

Oya, ada satu hal lagi yang membuatku bingung. Si kambing ini, ikan cowok ato cewek yah? Bagi temen2 yang tahu ciri2 ikan mas koki cewek ato cowok, sangat diharapkan informasinya. Kalo memang ngga’ ada respon terpaksa deh aku harus tunggu sampai si kambing dewasa, terus waktu dia lagi ganti baju, tinggal ngintip deh. Kalo si kambing pake BH berarti si kambingku tercinta ini seorang cewek (ide2ku memang brilian).




1 komentar: