Senin, 06 April 2009

JaTangPaBoJaLamPal (Part IV: Bogor)

Perhatian… perhatian… kepada seluruh pengunjung blog ayas pada saat ini, diharapkan membaca doa dahulu sebelum membaca posting ini dan jangan lupa untuk duduk yang manis dengan menyilangkan tangan di atas meja. Sudah? Bagus. Sekarang pak guru akan melanjutkan ceritanya.

Sesempainya di simpang parung, dengan hati berdebar2 aku menunggu bis yang lewat. Tidak mau kalah dengan gembel yang biasa mangkal di atas jembatan, aku duduk di pinggir jalan sambil jongkok minta cebok. Beberapa saat berlalu, bis datang. Lagi2 suasana sempit dan sumpek mulai terasa kembali, sekarang penumpang banyak didominasi anak sekolah, ada yang esempe dan juga esema. Dengan melangsingkan diri yang memang udah kerempeng aku nyelip duduk di kursi barisan buntut, terus terjadi dialog singkat berikut:


Aku: Bang, nanti tolong distop di simpang tiga Yasmin ya bang!

Kernet cuek: (Cuek aja kayak ngga’ ada orang ngomong)

Aku: Bang, hei Bang, nanti tolong stop di simpang tiga Yasmin

Kernet cuek sialan: Iya Mas, ntar, masih jauh kok

Perjalanan yang nampaknya sangat tidak menyenangkan ini semakin parah setelah aku menyadari kalo yang duduk di samping kananku adalah keturunan siluman ketek. Lelaki gembrot bau itu mengintimidasi seorang ayas yang notabenenya cowok manis, baik, dan wangi serta hafal al-fatihah sekejam2nya (kacian de aku). Setelah 40 menit seperti berada di dalam ruang isolasi nazi, akhirnya aku turun ketika seorang anak esempe bilang ‘Stop di depan Bang, di simpang Yasmin!’ Kalo ngga’ ada anak esempe itu mungkin aku sudah dibuat nyasar sama kernet cuek sialan yang nyebelin itu (suuzon yang wajar.)

Pada waktu menunggu kedatangan bakwo Herman yang sudah kutelepon, tiba2 aku disamperin bapak2 dengan tampang penghipnotis (feeling berkata, lagi parno2nya.) ‘Mau kemana dek?’ Kata bapak2 dengan tampang penghipnotis itu. ‘Nungguin paman,’ kataku tanpa melihat matanya. ‘Oh… saya mau ke Jakarta ni, biasanya jam berapa ya bisnya lewat?’, ‘Ngga’ tau pak’ kataku melengos. Karena takut dia nanya macam2 dan nanti aku dihipnotis lalu diperkosa, aku pergi tanpa kesan pesan, cari tempat nangkring baru.

Tak lama berselang bakwo Herman datang. Cium tangan, naik Jeepnya, ngobrol sebentar, dan akhirnya sampai juga di rumah bakwo. Disambut makwo (panggilan untuk istri bakwo) Rini dengan penuh sukacita, akupun masuk dengan sukarela. Dan untuk pertamakalinya dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir aku ketemu dengan adik sepupuku, namanya Rio. ‘Pa kabar Dek?’ Lip service question. ‘Baik,’ katanya tanpa nanya balik, entah cuek bebek belalang kupu2 ato karena sibuk menginstal battle of realm di kompinya. 30 menit kemudian diisi dengan ngobrol bersama bakwo dan makwo sambil minum2 sementara Rio masih asyik dengan Pentium 4-nya. Lalu terdengar suara pagar depan bergeser, ternyata kak Anisti yang pulang (anak pertama keluarga itu). Kalo sepupu yang satu ini cukup ramah walau agak bingung mau ngomong apa. Wajar 10 taun ngga’ ketemu. Sore harinya giliran bang Dikdo yang pulang (anak kedua), setelah kenalan dia langsung masuk kamar. Bagus. Jadilah hari itu pertemuan kaku antar sepupu yang 10 taun ngga’ ketemu.

Seperti kata Karl Max, ‘Ala bisa karena biasa’, (kayaknya ngga’ deh), keesokan harinya kekakuan antar sepupu sudah mulai mencair. Hari itu setelah mendapat ultimatum dari bakwo maka bang Dikdo segera mandi dan kak Anis dengan sigap ganti kostum. Mereka disuruh menemani aku jalan2 melihat Bogor. Ya, jadilah aku turis dadakan hari itu. Berhubung akses ke puncak lagi macet, kami hanya keliling kota bogor yang kecil dan rindang dan akhirnya masuk ke Kebun Raya Bogor, ngeliatin pohon2 ngga’ jelas gitu. Ya… mau bilang apalagi namanya juga ikut2an. Setelah muter2 ngga’ jelas dan sempat2nya kesasar, perjalanan diakhiri di restoran. Makan2.


Itu aku! Yang disamping cowok Baju Merah.

Keesokan harinya aku pamit pulang ke Jakarta, rumah cik Didi. Diiringi tangis haru dan tarikan ingus, kami pun berpisah. Kunjungan yang singkat tapi padat. Setidaknya aku tahu tampang sepupuku yang 10 tahun dulu masih lucu, imut, dan amit. Sekarang aku sadar, mereka sudah berubah, makin dewasa, makin keren, dan makin tua (so pasti atuh). Setelah diantar bakwo di terminal, maka dimulailah babak baru petualanganku yang tak direncanakan. Apakah itu? Tunggu kedatanganku, aku akan kembali Sembara.
Hiihee… hee… hee… (Mak Lampir tiba2 menghilang)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar