Selasa, 13 Juli 2010

Wisata Ziarah Yuk!



Dear diary,
Aku kangeeen banget sama kamu. Tapi kok kamu cemberut? Kamu ngambek? Maafin ya, bukannya aku mo ngelupain kamu. Coba deh kamu sebutin satu aja alasan kenapa aku harus ninggalin kamu. Ngga' ada kan? Iyalah, kamu cantik, putih, tinggi, kurang apalagi coba?

Memang harus kuakui beberapa minggu ini kehidupanku masih seperti biasa yang sering kucurhatin ke kamu. Jadi aku males aja menceritakannya. Makanya belakangan untuk mengusir kejenuhan aku sering mampir dulu ke kaskus, eh lama2 aku keenakan jadi kaskuser beneran. Soalnya selain ngobrol dan saling post serta berbagi rate sama agan dan aganwati disana (walau belum iso kasih cendol), aku juga bisa dapet banyak inpoh2 menarik lho. Tapi bukan berarti aku lupa sama kamu, sayang. Buktinya aku dateng ni buat bagi2 my new exp. Cekibrot!

:ilovekaskus:iloveindonesia:ngakak:kiss

3 hari yang lalu aku diajak Fajri ikut wisata ziarah yang diadakan anak2 IRMA alias Ikatan Remaja Masjid Agung Palembang. Wisata ziarah adalah sebuah bentuk kunjungan ritual yang dilakukan ke makam dan masjid bersejarah dengan harapan sebagai perjalanan batin seseorang, sehingga memiliki muatan emosi dan kontemplasi tinggi (keren banget bahasa gue padahal nyontek di gugel). Dengan pertimbangan "bosen di rumah karena hanya melototin laptop dan maen DOTA, mending jalan2 sambil melihat makam2 raja dan ulama Palembang yang berperan dalam keislaman di Palembang serta berjasa dalam kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia" aku pun menerima ajakan tobat Fajri itu.



Berikut objek wisata ziarah tersebut:

1. Makam Sultan Agung



Di kompleks makam ini, terdapat dua deret makam, yaitu deretan di sebelah utara dan selatan yang masing-masing terdiri atas empat makam. Makam di deretan utara, satu makam “utama” karena letak tanahnyya lebih tinggi dibandingkan makam-makam lainnya –saat ini dibangun pula semacam bangunan pelindung- adalah makam Sultan Agung. Makam ini diapit oleh dua makam yang nama di nisannya tidak terbaca. Ditambah pula dengan satu makam – nisan dari unglen dan kini dalam kondisi genting – yang juga tidak diketahui namanya. Di kelompok makam kedua, terdapat satu makam yang dikenal, yaitu Raden Tubagus Karang.

Sultan Agung memerintah di Kesultanan Palembang Darussalam selama hampir sepuluh tahun sebelum Kekuasaan dikembalikan kepada Pangeran Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo pada tahun 1727 M.


sumber1
sumber2

Karena makam ini terletak di samping Masjid Sultan Agung dan rumah KH. Abdullah Zawawi (salah satu dari 2 ulama tua Palembang yang masih hidup), kami sekalian solat Dhuha terus bersilaturahim ke rumah KH. Abdullah Zawawi. Waktu aku mo berpoto dengan Beliau ternyata kameraku abis batere, setelah aku ganti posisi '+ dan -' nya kalo2 salah pasang ternyata masih ngga' bisa, gagal rencana gan. Selesai kunjungan, aku beli batere baru di pasar, eh ngga' idup juga. Terus Aku coba ganti posisi '+ dan -' nya, eh bisa. Aku coba di batere yang lama, eh bisa juga. Lho, kok bisa? Padahal tadi waktu mo poto sama Beliau posisi baterenya sama? Pesan sponsor: Kalo banyak dosa, jangan coba2 poto sama ulama.


2. Kawah Tekurep/Makam Sultan Mahmud Badaruddin I





Nama kawah tekurep diambil dari bentuk cungkup (kubah) yang menyerupai kawah ditengkurapkan (Palembang:tekurep). Jika diukur dari tepian Sungai Musi, kompleks makam ini berjarak sekitar 100 meter dari sungai. Sekelilingnya dipagari dengan batu bata, yang sebagian telah rusak. Di sisi yang menghadap Sungai Musi (arah selatan), terdapat gapura yang merupakan gerbang utama untuk memasuki kompleks makam. Di dalamnya, terdapat empat cungkup. Yaitu, tiga cungkup yang diperuntukkan bagi makam para sultan dan satu cungkup untuk putra-putri Sultan Mahmud Badaruddin, para pejabat dan hulubalang kesultanan.

Adapun nama-nama tokoh yang dimakamkan di dalam Cungkup I :
1. Sultan Mahmud Badaruddin I (wafat tahun 1756 M)
2. Ratu Sepuh, istri pertama yang berasal dari Jawa Tengah
3. Ratu Gading, istri kedua yang berasal dari Kelantan (Malaysia)
4. Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio), istri ketiga yang berasal dari Cina
5. Nyimas Naimah, istri keempat yang berasal dari Palembang
6. Imam Sayyid Idrus Al Idrus dari Yaman Selatan


sumber1
sumber2

Melihat silsilah keluarga dan pemerintahan Kerajaan Sriwijaya di kompleks makam itu aku jadi kagum. Pertama aku kagum dan bangga menjadi orang Palembang yang memiliki Kerajaan Sriwijaya yang amat tersohor di zaman keemasannya dan kedua kagum akan beragamnya ras istri raja zaman dahulu. Omg, seandainya aku menjadi raja di zaman dahulu, hal pertama yang aku lakukan adalah mencari nenek moyangnya Miyabi (i love japanese girl).


3. Masjid Lawang Kidul



Masjid Lawang Kidul adalah salah satu masjid tua di kota Palembang. Masjid ini terletak di tepian Sungai Musi di semacam tanjung yang terbentuk oleh pertemuannya dengan muara Sungai Lawangkidul. Rumah ibadah ini dibangun dan diwakafkan ulama Palembang Kharismatik, Ki. Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs. H. Mahmud alias K. Anang (Kiai Merogan) pada tahun 1310 H(1890 M).

Sebelumnya, dia menetap di Mekkah, Saudi Arabia, tetapi mendapat bisikan untuk kembali ke kampung halaman. Bersama murid-muridnya, Kiai Merogan berdakwah menggunakan perahu hingga ke daerah pelosok di Sumatera Selatan. Karena itu pula, selain Masjid Lawang Kidul, Kiai Merogan masih memiliki peninggalan berupa Masjid Kiai Merogan di Palembang serta tiga pemondokan jemaah haji di Saudi Arabia, masjid di Dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir (OKI).


sumber1
sumber2

Ciri masjid tua di Palembang:
1. Dekat dengan Sungai.
Masuk akal tentunya, karena untuk mempermudah dakwah maka ulama mendirikan masjid di pinggir sungai sehingga dakwah antar masjid bisa lebih mudah dilakukan.


4. Masjid Al-Mahmudiyah (Masjid Suro)



Masjid Suro ini didirikan oleh KH Abdurrahman Delamat pada 1889, dan selesai pada 1891 Masehi. Sebagaimana fungsi masjid pada umumnya, masjid ini juga didirikan dengan tujuan untuk memudahkan masyarakat melaksanakan ibadah kepada Allah. Di samping itu, karena keterbatasan lembaga pendidikan, maka masjid juga dipergunakan untuk menimba ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama oleh masyarakat setempat kepada Kiai Delamat.

Dengan usianya yang terbilang sudah lebih dari satu abad, Masjid Besar Al-Mahmudiyah kini menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah. Di antaranya beduk, sokoguru (tiang) untuk penyangga masjid, kolam tempat berwudhu, serta mimbar tempat makam Kiai Delamat.

sumber1
sumber2

Ciri masjid tua di Palembang:
2. Banyak pintu masuk dan ditopang oleh banyak pilar di bagian dalam.

Ya benar sekali. Setiap masjid tua yang kami kunjungi terdiri dari banyak pilar. Jumlah pilar tersebut melambangkan simbol keislaman, seperti 17 rakaat solat wajib 5 waktu, rukun Islam dan rukun Iman. Ehmmm... mungkin rumahku nanti kubuat dengan pilar berjumlah 16 aja deh biar pas dengan tanggal lahirku.


5. Masjid Jami' Sungai Lumpur

Kalo cerita tentang masjid ini memang susah mencari datanya di inet. Tapi berdasarkan cerita dari masyarakat sekitar bahwa ulama2 yang sering mengisi pengajian disana mengatakan masjid ini didirikan oleh masyarakat sekitar dan pedagang2 arab pada saat itu. Dan masjid ini termasuk dari 5 masjid tertua di palembang selain Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II, Masjid Lawang Kidul, Masjid Kiai Merogan, dan Masjid Suro.



Berhubung ngga' ada di inet dan tempatnay sempit untuk mengambil gambar masjidnya secara keselurahan, jadi cuma gambar ini yang bisa kuambil

Ciri masjid tua di Palembang:
3. Terletak di dekat pasar.
Alasan utamanya adalah karena masjid harus menggerakkan dan mengimbangi kegiatan perekonomian yang ada di pasar. Tempat orang berkumpul untuk berniaga itu jangan sampai membuat orang melalaikan kewajibannya kepada tuhan. Selain itu juga mempermudah ibadah dan syiar pedagang2 dari luar negeri pada zaman itu. Bayangkan sodara-sodari betapa hebatnya Sriwijaya zaman itu sebagai 'Kota Pelabuhan Dunia'.


6. Masjid Cheng Ho



Masjid Cheng Ho adalah masjid yang didirikan oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Di Indonesia masjid Cheng Ho hanya terdapat di 3 kota. Surabaya, Semarang dan Palembang. Nama masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Cheng Ho, Laksamana asal Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, juga menyebarkan agama Islam.

Pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Yang kemudian Laksamana Cheng Ho (Admiral Zhang Hee) atau yang lebih dikenal dengan Sam Poo Kong atau Pompu Awang pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya mendarat di pantai Simongan, Semarang. Selain itu dia juga sebagai utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam
.

sumber1
sumber2

Akulturasi budaya antara Arab, india, melayu, dan tionghoa di Palembang bukanlah ssuatu yang aneh. Yang bikin aku salut adalah mereka bisa membina hubungan yang baik antar sesama. Buktinya dari kecil aku ngga' pernah melihat ada chaos antar warga asli dengan warga keturunana di sekitar rumahku. Malahan kalo satu diantara mereka merayakan hari besar, yang lain ikut menghormati. Ini ni yang bikin penjajah berang. Bersatulah Indonesiaku dalam satu kata: Piss.


7. Masjid Kiai Merogan





Masjid Kiai Merogan didirikan pada tahun 1310 H atau 1890 M oleh ulama Palembang yang sangat terkenal, yaitu Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau yang lebih dikenal dengan nama Kiai Merogan dengan biaya sendiri. Ki Mgs. H. Abdul Hamid bin Mgs H. Mahmud alias K. Anang atau Kiai Merogan ini dilahirkan pada tahun 1811 M dari seorang ulama dan pedagang yang sukses.

Ulama ini lebih dikenal sebagai Kiai Merogan. Panggilan itu merujuk pada tempat tinggal dan aktivitasnya yang banyak di kawasan muara Sungai Ogan (salah satu anak Sungai Musi) di kawasan Seberang Ulu. Kiai Merogan dilahirkan pada tahun 1811 M dan wafat pada 31 Oktober 1901. Ulama ini dimakaman di areal Masjid Ki Merogan, salah satu masjid yang dibangun selama syiar Islamnya.

sumber1
sumber2

Diantara masjid2 di atas menurutku Masjid Kiai Merogan inilah yang paling terkenal karena banyak ulama Jawa dan pejabat yang datang kesini sambil ziarah di makam Kiai Merogan. Selain itu memang tempatnya luas dan pemandangan Sungai Musi di belakang masjid bagus banget. Berbicara tentang tata cara ziarah makam Kiai Merogan, udah jelas2 ditulis agar tidak meminta dan bernazar, tapi masih saja ada masyarakat yang ngga' ngerti. Baru saja aku selesai mendoakan Kiai Merogan, eh ibu di belakangku mengusap batu makam terus diusapkan kembali ke muka bayinya. Apa coba?


Bonus:

8. Bukit Siguntang



Bukit Siguntang adalah tempat bersejarah di Kota Palembang yang menjadi tempat bersejarah penganut agama Budha. Daerah ini terletak 4 KM dari Kota Palembang dengan ketinggian 27 meter dari permukaan laut. Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan karena disini terdapat beberapa makam diantaranya :

1. Raja Gentar Alam
2. Putri Kembang Dadar
3. Putri Rambut Selako
4. Panglima Bagus Kuning
5. Panglima Bagus Karang
6. Panglima Tuan Junjungan
7. Panglima Raja Baru Api
8. Panglima Jago Lawang

Seorang peneliti Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwanti, menjelaskan bahwa Bukit Siguntang sesungguhnya pernah menjadi pusat Kerajaan Palembang yang dipimpin Parameswara, seorang adipati Kerajaan Majapahit. Sekitar tahun 1511 Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke Malaka.


sumber1
sumber2
sumber3

Nah kalo objek wisata satu ini aku datangi 3 hari sebelumnya. Selain dalam rangka wisata ziarah, kedatanganku dan teman2 kesana adalah mengadakan kegiatan outbound untuk adik2 didik kami dari Lembaga Kemanusiaan UPZ ESQ. Jangan heran, meski berisi makam2 raja zaman Sriwijaya, daerah ini sering juga dipakai sebagai tempat rekreasi oleh masyarakat karena suasananya yang sejuk dan rindang. Bahkan ketika aku disana, ada yang lagi poto prawedding, sampai2 ada juga yang mojok berduaan, ckckck... kemasukan setan bukit baru tau rasa lo!


OK deh gan, sekian dulu inpoh dari ane. Semoga bisa menambah sedikit wawasan kalian tentang objek wisata ziarah di Palembang. See you.

26 komentar:

  1. Hmmm...moga batinnya makin tenang setelah wisata ini....pa kabar bro...? :D

    BalasHapus
  2. ikutan ngambek ah kayak blognya bang ayas..
    sehat bang?

    BalasHapus
  3. Wisata Ziarah, bagus Yas. Menambah pengetahuan juga keimanan. Jalan-jalan kok gak ngajak-ngajak saya, hehe.

    BalasHapus
  4. posting kali ini benar benar panjang yas...
    cape nyekrolll.. *ganti pake kaki

    eh nek ziarah km ngapain aja yas doanya?

    BalasHapus
  5. wah aku bae lum pernah kesano, btw memang dak boleh sembarangan foto samo ulama besak hihihi

    BalasHapus
  6. Judul Postingannnya Ziarah
    tapi gambarnya Bayi..
    Ayas...ngga kasihan apa sama poto itu???

    BalasHapus
  7. salam kenal ...makasih bacaannya,,,tukeran info blog yuk

    BalasHapus
  8. salam sobat
    kaskus memang banyak diakses ,,
    wah sip banget wisata ziarahnya, jalan2 sekalian dapat mengunjungi langsung tempat bersejarah.

    BalasHapus
  9. huallow bang,, wah keren kali wisata ke tmp sejarah, soalnya sering banyak anak muda (termasuk keboo) yg serem kalo k tmp2 sejarah gt, hehe..
    btw potonya imut kali.. kaya boneka huhuhu...

    bang ayas kerja dmana sekarang?

    BalasHapus
  10. kakuser to,,
    sibh tu ziarah,,
    refrehing badan ama spiritual

    BalasHapus
  11. Sebetulnya itu lebih melelahkan daripada nongkrongin laptop kan. Tapi memang tidak selamanya yang lebih melelahkan itu tidak lebih membangkitkan semangat.
    btw, bener2 terkesan dan suka dengan foto bayi yang paling atas itu.

    BalasHapus
  12. masjid cengho gak ada di semarang.
    yang di semarang itu vihara/klenteng.

    oh ya, wisata ziarahnya keren
    bisa mengingatkan kita tentang kematian...
    dan semoga mendekatkan kita pada Tuhan

    BalasHapus
  13. Aku suka sekali dengan Masjid Lawang Kidul dan Masjid Ceng Ho. Ternyata Bhs.Palembang ada kesamaan juga dg Bhs.Jawa ya..?

    Maaf ya, baru sempat mampir setelah beberapa hari banyak kegiatan.

    BalasHapus
  14. wisata ziarah emang banyak gunanya.... banyak hal yang bisa didapatkan salah satu dan yang paling utama adalah selalu ingat dengan Allah SWT,.... klo ada kesempatan coba juga berkunjung ke Pulau Belitung.

    Salam kenal dr negeri Laskar Pelangi

    BalasHapus
  15. assalamualaikum...
    lama tak berkunjung,..
    ziarah yang menarik, suatu saat saya berharap bisa datang ke tempat ini mas..
    salam

    BalasHapus
  16. aku selalu menyukai apa saja yang berhubungan dengan palembang,makasih ya ka dah ngobati rasa rinduku ke kota palembang.

    BalasHapus
  17. wisata ziarah menarik juga yaa.. hehehe..

    Masjid Cheng Ho, kereennnn... :)

    BalasHapus
  18. hohohoho... jalan2 dak ngajak2 lagi neh mang... siipphh deh, moga wisata ziarah bikin nambah keimannya, amiinnn... :D

    BalasHapus
  19. wadoooh yang pink eh merah nggak ku ku ku...

    BalasHapus
  20. selamat berziarah/berwisata

    BalasHapus
  21. Asslm,,,,

    Kunjungan Balik nih Sob,
    Thanks ya udah Berkunjung ke Rumahku...hehehe
    Rumahnya (Blognya...red) tambah oke aja,
    Gak bosen deh saya sempatkan untuk Datang ke Sini lagi..!!

    Sob saya punya Blog baru nih,
    Sempatkan untuk berkunjung ya, ini Rumah Baruku...
    http://obatjerawatalami.blogspot.com
    http://bajumuslimmuslimah.blogspot.com
    http://pakaianbajupengantin.blogspot.com


    Salam Blogger, Sukses Menjalin Silaturahmi....


    Wassalm,,,,

    BalasHapus
  22. wew.. nice place bang.. ^^ anyway, maaf nih baru bisa berkunjung sekarang.. ^^

    BalasHapus
  23. aku suka masjid cheng ho nya.. :)
    kemane aje Yas. :)

    BalasHapus