Kamis, 02 Februari 2012

Invisible Bandit



Sumber: Klik

Siang, blogger!

Hari ini seharusnya aku ga ngantor karena masih status dinas di Bogor tapi berhubung rapatnya selesai jam 11 malam tadi, makanya hari ini aku mesti ngantor walau agak telat dikit karena kesiangan bangunnya :p

Dampak dari bangun kesiangan sedikit aja adalah jalanan menuju kantor yang biasanya lancar terkendali, menjadi semerawut berantakan. Belum lagi abang sopir angkot yang mau kejar setoran main nyusruk-nyusruk serampangan, macet pun bertambah parah sehingga aku pun semakin telat #tepokjidat.

Macet.. semua orang tau kalau Jakarta itu macet banget. Orang awam atau yang sesekali ke Jakarta kalo ditanya, "Apa yang paling diinget tentang Jakarta?" akan menjawab, "Macet." Dan menurutku kalo ga merasakan terjebak macet beberapa kali di Jakarta ga bisa bilang kalo Jakarta itu macet. Hanya orang yang terjebak macet Jakarta beberapa kalilah yang mengerti benar arti macet Jakarta sebenar-benarnya. Karena dalam situasi seperti ini mereka akan terkena macetitis, yaitu gejala stres berkepanjangan bercampur gondok ditambah kondisi panas, sumpek, dan capek yang mendera. Terlebih lagi bagi yang naik angkot saat pulang kantor. Percayalah, macetitis bisa lebih parah dari bronkitis.

Dan satu hal lagi yang bikin krik banget bagiku pagi ini adalah kedatangan invisible bandit di dalam angkot. Apakah makhluk yang kuistilahkan invisible bandit itu? Mereka adalah bandit-bandit yang suka memeras korbannya (terutama wanita) di dalam angkutan umum, dengan intimidasi kata-kata ancaman dan suara bernada memaksa bahkan ada juga yang mengeluarkan senjata tajam untuk menakut-nakuti korbannya. Penampilan mereka kebanyakan seram2 dengan tindikan dan tato di beberapa bagian tubuh. Dan tempat mangkalnya adalah di perempatan lampu merah, yang notabenenya adalah tempat dimana banyak didirikan pos-pos jaga polisi lalu lintas. Aneh, kan? masa iya polisi ga tau tentang keberadaan mereka yang jelas-jelas ada di depan mata, seakan-akan mereka ini cuma terlihat sama penumpang angkutan umum saja. Wajar kalo sekarang jumlah mereka dirasa semakin banyak saja. "Permisi om tante, pak bu, hidup di Jakarta ini kejam, kejahatan dapat terjadi dimana saja, daripada kami menodong lebih baik kami meminta. Apalah arti seribu dua ribu bagi kalian *berarti banget bagi gue tau :'(( * yang berpakaian bagus dan mewah dibanding kami ini om tante pak bu. Jangan sampai kami gelap mata sehingga berbuat kriminal om tante pak bu bla bla bla...," mestinya orang yang sering naik angkutan umum kecuali busway di Jakarta pernah bertemu dengan makhluk ini, bukan?

Jadi, untuk kesekiankalinya, hari ini aku bertemu lagi dengan invisible bandit, dengan muka datar dia masuk angkot dan bilang "Hidup di Jakarta ini keras, bukannya saya tidak mau mencari kerja, sudah capek saya merantau dari Palembang demi cari kerja tapi tetap saja tidak ada yang memberikan pekerjaan. Daripada saya terpaksa melakukan kekerasan lebih baik saya meminta, salam." The question is: Kenapa harus ada kata Palembang? Selama ini ga ada tuh invisible bandit yang hastag #Palembang. Duh, ni orang malu-maluin aja. Sebagai orang Palembang, aku kan malu. Tapi ga semua orang Palembang begitu lho.

Karena kejadian ini, aku jadi inget pengalaman memperkenalkan diri ke beberapa orang ketika baru ke Jakarta. Kebanyakan orang sih ekspresinya berubah gitu kalo tau aku orang Palembang, bukannya berubah takut tapi berubah heran karena bagi mereka orang Palembang itu kasar, baik tingkahnya maupun bahasanya, sedangkan menurut mereka aku ga seperti itu, ngomong aja seperti orang sunda apalagi nama akhirku Wiguna. Lagian masa iya ada cowok Palembang dengan sifat keibu-ibuan seperti Ayas sih :p

So, pesan moral hari ini: Janganlah kita menilai suku tertentu di Indonesia seperti kebanyakan masyarakat (terutama orang tua kita) yang sering mengidentikan suatu suku dengan sifat-sifat tertentu, sepeti Batak, Padang, Jawa, Sunda, Bugis, Sasak, dan termasuk Palembang. Setiap orang pasti ada duanya, maksudnya ga semua orang itu sama walau mereka berasal dari daerah yang sama, bukan? CMIIW. Happy Weekday, temans. Kowawa! \(´▽`)/

27 komentar:

  1. Orang-orang yang mai pukul rata mengenai sifat dan karakter suku tertentu, mungkin kudu diajarin caranya membuka mata dan telinga lebar", disertai membuka hatinya juga. Menilai buruk suku tertentu, mungkin itu warisan penjajah belanda buat mengadu domba kita.
    Sudah saatnya untuk menilai orang bukan dari latar belakangnya (suku, agama, ras), tapi nilailah dari kualitas pribadinya.

    BalasHapus
  2. ya emang sudah rutinitas jakarta "macet" mulu,,,

    BalasHapus
  3. heh ini belum wiken yas, baru hari kamis...
    orang sunda itu juga ada yang cerwetnya minta ampun lhooo
    *agak rasis*

    BalasHapus
  4. yang sabara aja ya mas menjalankan kemacetan jakarta

    BalasHapus
  5. mas yang sabar aja ya jakarta seperti itu banyak yang membuat kita pelajaran

    BalasHapus
  6. iya, kalau aku juga bilang dari surabaya, pasti banyak yg bilangin bonek, kasar, trus banyak lagi dech. hmm... gak suka aku.

    tapi untungnya aku belum ke jakarta, tapi dari ceritamu ini bener-bener nakutin dech kalau naik angkot di jakarta. untungnya di surabaya lebih tertib angkotnya (meski sedikit).

    BalasHapus
  7. kalo jakarta macet udah gk asing lagi..
    anak kecil juga pasti bilang jakarta kota termacet.. hehehe

    aku suka sama kata yg terakhir (gk semua orang sama, walau berasal dari daerah yg sama)

    thanks udah share :)

    BalasHapus
  8. kalau orang bugis mah kerennya minta ampun *kibas jilbab*

    BalasHapus
  9. ya saya juga gak betah tinggal di jakarta,salam kenal...

    BalasHapus
  10. aku suka sama kata yg terakhir (gk semua orang sama, walau berasal dari daerah yg sama)

    thanks udah share :)
    sempatkan mampir ke websaite kami yah trmksh

    BalasHapus
  11. aku suka sama kata yg terakhir (gk semua orang sama, walau berasal dari daerah yg sama)

    thanks udah share :)
    sempatkan mampir ke websaite kami yah trmksh

    BalasHapus
  12. yak saya jawa dan sunda,bahasa saya jawa sunda,hidup saya bolak balik jawa sunda,,tapi ap yg dikatakan nenek kita,,tidak terbukti di diriku,salam indonesia,bhineka tunggal ika

    BalasHapus
  13. orang sunda bilang ibukota jakarta teh macet pisan hehehe
    angkutan umum nya juga tertib walopun terkadang masih suka berhenti ngedadak hehe

    BalasHapus
  14. saya setujut banget sama kalimat terakhir dari mas .
    jangan hanya melihat sesuatu dari sampulnya aja

    BalasHapus
  15. tidak semua orang itu sama???ya saya juga setuju walaupun kita bukan dari suku,bangsa,ataupun negara yang sama akan tetapi kita itu sodara semuanya!!!jangan ngelihat orang dari luarnya saja tapi dari hati,kebanyakan orang yang akan dihargai terdapat pada kepribadianya dan soal macet dijakarta itu masalah yang tidak boleh kita acuhkan,mulai dari sekarang marilah kita bangun ibukota kita dengan yang lebih baik lagi.... semangat!!!

    BalasHapus
  16. saya juga merasa tidak nyaman ketika berada di daerha jakarta,seperti yang saya tahu jakarta itu macet... saya berharap jakarta akan menjadi kota yang tidak macet lagi dikemudian hari dan masalah pendapat orang lain memang iya jang melihat dari sisi luarnya saja,salam kenal!!!

    BalasHapus
  17. setuju mas , sampul yang bagus belum tentu isinya juga bagus .

    BalasHapus
  18. memang bener mas di sana itu banyak sandiwara .
    ga suka deh .

    BalasHapus
  19. setuju deh sama mas , hidup itu harus apa danya

    BalasHapus
  20. emang pasti jakarta itu selalu macet , ditambah panas lagi .
    ga betah deh kalo di jakarta

    BalasHapus
  21. sabar aja gan menjalani hidup ini,.
    smua pasti bisa kita jalakan dengan cara berusaha sekeras mungkit,.
    berjuang terus ya gan,..

    BalasHapus
  22. saya juga setuju dengan tidak melihat orang dari sisi luarnya saja,salam kenal!!!

    BalasHapus
  23. mank benar macet itu hal yang menyebalkan

    BalasHapus
  24. lihatlah dari sisi hatinya jangan liat luarnya

    BalasHapus