Minggu, 07 Oktober 2012

Kondangan

Weekend kali ini diisi dengan pengalaman baru bagiku karena menghadiri upacara pernikahan sepupunya si honhon, mas bondan. Yang bikin beda karena pernikahan ini dilakukan dengan proses adat jawa. Berhubung aku belum pernah liat prosesi adat pernikahan jawa, tentunya jadi bikin penasaran. Apalagi kata honhon aku mesti liat acara siraman, midodareni, dan panggih biar nanti kalo giliran kami yang nikah ga kagok lagi (uhuk.. uhuk..)

Dari pengalamanku dua hari ini dapat disimpulkan bahwa prosesi adat pernikahan jawa secara garis besar dibagi menjadi:

1. Siraman.
Adalah acara dimana calon pengantin wanita disiram (dimandikan) dengan air kembang. Tentunya mandi yang dimaksud disini ya disiram air sekali lewat, bukan dimandiin beneran. Apalagi pake sabun dan sampo. Lalu sebagian air tersebut dikirim ke tempat calon pengantin pria untuk siraman juga. Setelahnya rambut mereka dipotong sedikit untuk dikubur bersama. Sayangnya aku ga bisa liat prosesi ini karena telat kesana :p Tapi setidaknya begitulah gambarannya kata si honhon.

2. Midodareni
Lebih tepatnya disebut malam midodareni karena dilakukan pada malam hari sebelum akad nikah. Nah, kali ini aku ikut dan dengan seksama mendengar dan melihat step by step prosesinya. Pengantin pria datang ke rumah pengantin wanita sebagai bukti kesungguhannya berumahtangga dengan membawa seserahan berjumlah ganjil. Diteruskan sambutan dan wejangan orang tua calon pengantin wanita. Pada saat itu calon pengantin wanita hanya boleh dilihat oleh saudara dan tamu wanita saja. Setelah silaturahim selesai, tamu dipersilahkan makan kecuali calon pengantin pria yang hanya diberi minum. Dan ketika pulang, ibu calon pengantin wanita memberikan oleh-oleh berupa pakaian dan makanan.

3. Panggih
Keesokan harinya, setelah akad nikah dilakukan prosesi panggih, yaitu bertemunya kedua mempelai. Sebenarnya waktu akad ya udah ketemu, cuma ketika panggih ada prosesi lain, diantaranya lempar sirih, suami menginjak telur, istri cuci kaki suami, bapak istri menggiring pengantin ke pelaminan terus dipangku sebentar, suami ngasih beras dan koin dalam kain dan disimpan istri, suami istri suap-suapan, dan terakhir sungkeman sama orang tua.

Emang, sedikit ribet ya. Surprisenya, kata temenku, kalo di kampung acaranya bisa lebih lengkap lagi. Iya.. gue harus bilang wow kali ini. Tapi tentunya ribet dan capeknya ga seberapa dibandingkan khidmat dan sukacitanya pernikahan itu sendiri :) Akhirnya aku cuma bisa mendoakan semoga pernikahan mereka samara sampe kakek nenek, bahkan di dunia maupun di akhirat. Amin.

NB: Makanan di gedungnya enak-enak. Yang paling laris dimsum dan crepes. Lucky me, jadi pengantri terakhir yang dapet crepesnya. Apa mungkin karena aku ngantri di belakang avatar, ya?

2 komentar:

  1. lah itu, fotonya sapa Yassss?
    Ribet. Nikah emang dibuat ribet, biar kalo ada keinginan cerai, harus mikirrrr.. 10 ribu kali.

    BalasHapus
  2. Iya setuju banget gek.. amit2 dah kalo sampe kejadian cerai. Itu anak orang, gw asal poto aja pas dia liat gw hehe :p

    BalasHapus