Minggu, 18 November 2012

Bakso Pakde

Bakso pakde, begitu aku menyebut warung bakso tak bernama milik bapak paruh baya ini. Entah siapa nama sebenarnya, aku juga malas bertanya. Jadi, biarkanlah namanya menjadi rahasia sebagaimana mungkin diapun menjadikan namaku sebagai pertanyan rahasia yang hanya berputar di kepalanya. Lagian dia nampak senang kupanggil pakde. Kemarin, aku mengajak geral (adikku yang sedang menghabiskan masa liburan 4 hari ini di kostanku) makan di warung bakso pakde. "Pakde, baksonya dua, ya!" pintaku sambil mengangkat dua jari membentuk simbol piss. Muka pakde nampak lesu ketika menjawab "baksonya ga ada mas'e.. daging sapi lagi langkah sekarang."

Pakde orangnya memang ramah, terbukti dari caranya mengajakku berkomunikasi setiap aku makan di warungnya. Tapi terkadang aku takut juga ngomong sama pakde kalau sedang makan bakso disana. Bukan karena orangnya gede dan seram. Orangnya kecil kok, malahan lebih kurus daripada aku. Masalahnya, pakde sering berbicara dalam bahasa jawa. Secara garis besar, yang kutahu (cmiiw) bahasa jawa itu dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu ngoko yang dipakai untuk mengobrol sesama teman, kromo madya dan kromo inggil yang dipakai untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau sebagai bentuk penghormatan kepada orang lain. Tiap-tiap tingkatan bahasa ini memiliki kata-kata halus dan kasarnya sendiri. Kalau bahasa tingkatan ngoko aku masih bisa mengerti karena teman sekantorku sering menggunakannya. Nah, kalau sudah masuk tingkatan kromo seperti yang sering dipakai pakde, aku cuma bisa cengar-cengir sendiri mendengarkan ocehannya.

"Daging sapi lagi langka karena ga ada stok yang masuk ke pasar, mas'e," kata pakde (dalam bahasa jawa campur indonesia. Bukan kebalikannya!) sambil membungkus mie ayam sebagai substitusi pesanan baksoku. Oke, dalam hal ini aku masih bisa mengerti maksud kalimatnya tapi kalau aku tanggapi lebih lanjut maka bahasa dewa itu akan keluar sehingga akupun menjawab dengan santai "oh gitu ya, pakde."

Besoknya baru kuketahui melalui media online, kelangkaan daging sapi yang dikeluhkan pakde disebabkan oleh peraturan pembatasan impor daging yang dikeluarkan pemerintah dengan alasan menumbuhkan ekonomi masyarakat dalam bidang peternakan. Akan tetapi hal ini belum disertai pemenuhan fasilitas yang memadai, ditambah lagi kurangnya suplai dari penyalur sapi dari daerah dikarenakan masalah infrastruktur jalan yang buruk. Ga kusangka, cara kita menggunakan jalanpun dapat mempengaruhi mata pencaharian seorang pakde. Aku cuma bisa berharap pasokan daging sapi bisa kembali normal secepatnya agar pedagang kecil seperti pakde bisa menyambung hidup dari dagangannya.

"Sekawan welas ewu, mas'e," kata pakde sambil memberi bungkusan mie ayam.

Aku menyodorkan selembar rupiah biru.

Ga lama aku menerima kembalian 32 ribu. Oh sekawan welas ewu itu 18 ribu, aku membatin meninggalkan warung bakso pakde.

"Eh, masih kurang mas'e. Kan, empat belas ribu," kata pakde anteng.

Pakde pakde.. ngemeng daritadi kalee...

6 komentar:

  1. iya pada ngeluh harga daging sapi...banyak pedagang bakso yang pilih gak jualan karena takut rugi...

    **baru baca berita :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha.. bagus! banyak baca biar kita pinter :p

      Hapus
  2. asalamualaikum wr wb
    ternyata kurang 4 ribunya mas
    ga ditanyain dulu sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikumsalam wr wb..
      iya bu, kirain udah pas ;D

      Hapus