Minggu, 18 November 2012

Breaking Dawn

Nampaknya lebih dari separuh wanita modern di negeri ini sedang demam breaking dawn. Di recent update bb, kebanyakan status temen cewekku tentang seri terakhir twilight saga ini. Di fb dan instagram ga sah rasanya bagi mereka kalo ga poto bareng terus saling ngetag atau setidaknya cukup memajang poto tiket bioskop hari itu. Di twitter lebih seru lagi, sahut-sahutan mention ngobrolin film yang jelas-jelas sudah ditonton bersama pun berasa semakin mempertegas bukti cinta mereka sama twilight saga, entah dengan filmnya (walau belum pernah baca novelnya) atau dengan paras robert pattinson yang katanya bikin mereka melted *garukkepala* Siaulnya, honhon pun ga luput dari virus demam satu ini. Dan korbannya? Menurut L?

Kalo bukan dibujuk (dipaksa-red) honhon menonton twilight saga yang ceritanya sudah sampai bagian terakhir (breaking dawn - part 2) rame-rame bareng sodara, rasanya males juga mesti datang ke bioskop sebelum waktu zuhur. Sesampainya disana, suasana bioskop memang sudah dikondisikan untuk mengantisipasi lonjakan penonton. Sampai-sampai bench santai dekat pintu masuk harus digeser untuk memperpanjang garis antrian. Dan memang benar, ga lama kemudian sudah terbentuk antrian penonton yang nguler dan didominasi perempuan 20-30 tahunan. Padahal menurut artikel yang pernah kubaca, penulisnya sendiri menargetkan twilight saga untuk pembaca remaja alias abg, mengingat cerita novelnya yang ringan. Eh, ga taunya malah cewek-cewek pasca abg yang lebih tertarik, bahkan ibu-ibu penggemar twilight pun belain-belain membuat komunitas twimoms. Wow! *koprollangsungkayang*

Jujur, aku ga suka film twilight, dari buku pertama yang difilmkan sampai buku yang terakhir (ga suka tapi nonton semua). Menurutku cerita tentang percintaan antara manusia, vampir, dan manusia serigala ini sudah klise banget. Ditambah lagi alur ceritanya yang datar, dengan konflik sederhana yang ujung-ujungnya berakhir bahagia dengan kalimat penutup yang berhiaskan kata happy dan forever. Tapi.. karena aku sudah membaca novelnya, satu poin yang harus aku apresiasi dari karya stephenie meyer ini adalah gaya bahasanya. Sebagai pembaca aku bisa merasakan gaya bahasa/tutur twilight saga memang berbeda dibandingkan dengan novel sejenis. Banyak banget narasi dan deskripsi di twilight saga yang memanjakan imajinasi pembaca. Belum lagi dialog-dialog romantis antar karakter yang bisa membuat para wanita klepek-klepek, dan menginspirasi para pria untuk ngegombal, hehe... Sampailah ketika cerita yang tercetak di kertas itu dipindahkan ke layar putih bioskop. Film yang sudah kuproduksi sendiri di otakku ternyata jauh berbeda dengan gambaran sang sutradara. Itulah terkadang yang membuatku malas pergi ke bioskop.

Untungnya di seri terakhir ini, sang sutradara, bill condon, mendengarkan curhatan hati penikmat fiksi sepertiku. Dimana bagian akhirnya dibuat sedikit berbeda dengan versi bukunya. Dan tentunya juga kecerdasaan seorang melissa rosenberg sebagai penulis naskah yang menceritakan pertarungan grup vampir dan werewolf melawan voltury dengan tidak merubah ending sebenarnya. Akhirnya, penikmat novelnya senang, penggemar filmnya pun riang.

Jadi, bagi kalian yang belum nonton, buruan nonton! Mumpung masih sehari lagi menikmati masa libur panjang ini :-)

4 komentar:

  1. Saya malah gak tertarik nonton pilem ini, dari yang pilem pertama. Lagian, perasaan R-Patz gak ganteng deeeh -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ga salah juga sih.. beda orang beda minat :-)

      Hapus
  2. Mengikuti kisah Edward - Bella - Jacob ini dari awal sampai Breaking Dawn 1. Yg terbaru belum sempat nonton. Tapi novelnya punya lengkap bahkan sudah dibaca 2x.

    Kalau saya sih suka aja sama ide cerita dan alurnya, bukan pada fisik para pemainya. Filmnya membuat lebih paham apa yg tertulis di novelnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa diterima mbak, kan selera orang terhadap sebuah novel sah-sah saja kalau berbeda..

      wah belum nonton. buruan nonton mb :D

      Hapus