Jumat, 09 November 2012

Bogor

Semakin mendekati akhir tahun maka penggunaan hotel sebagai tempat seminar dan rapat oleh pemerintah kita pun semakin meningkat (sumber: badan pusat statistik.) Kenapa? Karena kalau anggaran yang diberikan di awal tahun ga habis, berarti banyak program mereka yang tidak berjalan dengan baik (baca: anggaran tahun depan terancam dikurangi.) Ini adalah fakta yang tidak bisa dielakkan lagi. Termasuk oleh kementerianku.

Maka dari itulah, kemarin salah satu unit utama di kementerianku mengadakan rapat tentang peran sektor esdm di dalam program ekonomi kreatif pemerintah di bogor. Selain dari unit kementerianku sendiri, hadir juga di dalam rapat itu bapak-bapak pns dari kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif atau disingkat kemenparekraf (terlintas di bayanganku adalah buah pare ditaburi keju kraft, hoeek...,) kementerian koordinator bidang perekonomian dan akademisi dari ipb.

Seperti halnya rapat biasa, setelah dibuka maka setiap pembicara akan memaparkan program yang telah mereka lakukan dalam menunjang ekonomi kreatif untuk negara kita yang (katanya) tercinta ini. Aku ga akan cerita tentang paparannya, karena ga penting juga buat dibahas disini, kalau mau tahu apa itu ekonomi kreatif pun cukup googling aja. Yang menarik bagiku adalah ketika sesi diskusi, ketika seorang akademisi mengkritik program ekonomi kreatif ini. "Menurut saya, program ini tidak fokus dan ideal, (bla bla bla...)" si akademisi ngoceh panjang lebar. Pertanyaannya memang tingkat dewa, jadi aku pun memasang muka serius tapi yang bikin aku mau ketawa adalah ketika melihat muka pembicara yang memerah, seakan menunjukkan ekspresi setengah malu bercampur marah, setengah lagi bingung mau jawab apa, entahlah.

Walau nyelekit, kritiknya harus kubenarkan karena menurut pengalamanku mengikuti rapat program pemerintah, banyak banget program yang ga fokus tujuannya karena semuanya mau dilaksanakan. Maksudnya sih bagus, dengan menjalankan semua program maka kemajuan perekonomian rakyat yang diharapkan pun akan cepat berkembang. Tapi yang perlu diingat, banyaknya jumlah keinginan akan berbanding lurus dengan banyaknya jumlah kepentingan, akhirnya semua tinggal harapan saja.

Masih ingat ga pelajaran sd tahun 90an tentang repelita swasembada pangan jaman soeharto? Betapapun bencinya aku kepada soeharto, aku harus mengapresiasi program pemerintahannya yang fokus pada satu hal, ga neko neko (itu dulu iklan homyped atau neckermen , ya?)

Balik lagi ke kritikan akademisi itu, ada satu hal yang ga dia sadari saat itu. Program yang dijalankan kementerian itu ga lepas dari kebijakan politis. Sudah banyak contoh dan dampaknya yang bertebaran di media. Itulah mengapa sebenarnya banyak kementerian yang kerjanya setengah-setengah. Bukan sebagai pembelaan juga, karena memang begitulah kenyataanya, negara kita ini diatur oleh segelintir orang saja. Kalau orangnya baik, baiklah negara ini, tapi kalau orangnya sudah diinterfensi oleh orang lain, siapapun dan darimanapun, maka kacaulah negera ini. Kalau aku sih, cuma bisa menjadi contoh untuk diri sendiri dulu, syukur-syukur bisa ngefek ke yang lain.

Hmm... sedikit curhat penting ga penting dari seorang ayas.

Nb: View dari tempat makan hotelnya bagus juga.

gunung salak itu berselimutkan awan

12 komentar:

  1. oooo, gitu ya Yas. aku malah sering sebel ngeliat misua kebanyakan rapat di sekolah, ga dapat apa2, ga ada perubahan, what's the point of rapat? Buang2 waktu. mending di rumah urusin anak! #curhatistrigalau. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya begitulah gek. pointnya tetep balik kepada kebijakan pimpinan *ketokpalu*

      Hapus
  2. Kunjungan balik mas.... juga sdh follow...

    BalasHapus
  3. wah aq nggak enak kalo mau koment disini.
    jujur wae soalnya nama pns ntu jelek dimata saya :D
    semoga yg satu ini nggak :p
    piss :D

    Rapat adalah satu hal menurut q penting nggak penting, boleh sih rapat, tapi jangan seperti makan aja, 3 kali sehari..

    alhasil kerjannya cuman rpat, tapi realisasinya is nothing :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya dienakin aja klo gitu mas, hehe... gapapa kok kan setiap orang bebas mengkritik orang lain asal kita juga mw dikritik kalau kritik kita tidak membangun :-)

      Saya juga setuju kalau rapat bukan sekedar makan aja. Trims komennya

      Hapus
  4. semoga pemerintah menjalankan tugas sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,, kalau kita pernah benci dengan suharto berarti kita harus lebih baik daripada suharto,,,
    nice posting...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih. Nice comment! Ya semoga pemerintah kita semakin sadar tanggungjawab dan tanggungannya.

      Hapus
  5. repelita jaman soeharto...
    dulu jaman SD sampe ngapalin repelita loh
    heran deh, buat apa coba???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mb bener banget, haha.. buat melatih daya inget kita kali :p

      Hapus
  6. rapat itu menghabiskan waktu untuk bigboss, mndgr celotehannya dan smga aj bermutu.. hahahaha.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya.. mending kalau bigboss nya mw ngedengerin pendapat bawahannya. Didengerin ding, tapi ga dipertimbankan haha....

      Hapus