Minggu, 23 Desember 2012

Surabaya

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Surabaya!!! Kota pahlawan berlambangkan ikan dan buaya yang tugunya terletak di depan kebun binatang surabaya. Sebenarnya banyak yang salah paham dengan istilah dan lambang surabaya. Surabaya bukanlah berarti ikan sura dan buaya karena ikan sura (ikan hiu) itu ga ada istilahnya di dalam bahasa jawa. Istilah surabaya lebih mengacu kepada "soera ing baia" yang berarti berani melawan bahaya. Fakta ini kudapat setelah iseng-isenng gugling kenapa ikan dan buaya itu bisa menjadi lambang surabaya. (sumber: klik)

Sebelum ke surabaya aku penasaran banget dengan yang namanya rujak cingur dan lontong balap. Setelah mencoba sendiri, di daerah asalnya pula, aku baru sadar kalau rujak cingur itu ga seenak bayanganku. Lontong balapnya juga terasa seperti tauge berkuah dengan tambahan irisan lontong. Tapi aku suka rawonnya, mungkin karena bumbu kluwe yang memberi rasa khas di kuahnya. Jadi, kuliner favoritku jatuh ke rawon. Satu hal lagi, kata temanku disini ada es krim yang terkenal banget, namanya zangrandi. Sialnya sampe disana tempatnya tutup. Dari internet kami dapat info kalau zangrandi membuka cabang di tunjungan plaza, pas kita samperin disana ternyata cabangnya malah sudah ga ada. Kecewa deh!!!

Aku juga berkesempatan wisata religi ke masjid ampel yang di sampingnya terletak makam sunan ampel. Di dalam kompleks pemakaman ini juga terdapat makam para pengawal dan para santri sunan ampel, salah satunya makam mbah sholeh yang berjumlah sembilan dan makam mbah bolong. Kalau menurut ceritanya sih, mbah sholeh, tukang sapu masjid ketika sunan ampel masih hidup, bisa hidup kembali sampai sembilan kali dikarenakan ucapan sunan ampel yang mengharapkan kehadirannya yang selalu menyapu masjid dengan bersih. Kalau mbah bolong adalah orang yang berjasa menentukan arah kiblat dengan cara melubangi dinding menggunakan jarinya untuk melihat ka’bah di mekkah. Ceritanya.

Kalau belanja oleh-oleh, pasar gentenglah tempatnya. Disini terdapat deretan toko-toko yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas jawa timur seperti kerupuk ceker, sambal bawang, keripik kentang, dan yang menjadi favorit adalah bandeng asap dan otak-otak bandeng. Setelah puas belanja badeng, kerupuk, keripik, sampai sambal, maka berakhirlah perjalananku di surabaya. Zangrandi, aku akan kembali!!!

10 komentar:

  1. Nyanyi dulu ah..
    *Surabaya.. oh Surabaya.. oh Surabaya... Kota Kenangan Kota Kenangan oh Surabaya...*
    How I missed that little town when I grew up the first 5 years of my life. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. makanya mainlah ke kampung kenangan kamu itu, gek

      Hapus
  2. lima tahun yang lalu pernah mencicipi nasi rawon. masih sama gak ya rasanya sampai sekarang?

    BalasHapus
  3. Wah...sekarang sudah sering dinas luar kota ya? sudah kemana saja? bilang2 dong kalau mau dinas ke surabaya karena siapa tahu aku juga pas dinas kesana. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bu, tapi susah juga kalau mesti laporan ya bu :p

      Hapus
  4. Memang, rujak cingur tidak seenak yang dibayangkan bagi gue juga :')

    BalasHapus