Rabu, 16 Januari 2013

Shit Happens

Semalam bisa jadi hari paling banyak menguras energi dan emosi yang pernah kualami selama aku tinggal di jakarta. Bermula dari rencanaku untuk main ke mal kota kasablanka setelah pulang kerja yang ternyata adalah keputusan yang sangat salah yang berdampak sangat dahsyat dua jam kemudian. Ketika mau pulang kami harus mengantri taksi berjam-jam. Sementara kami menunggu ditemani hujan deras dan kamacetan total yang nampak dari depan mal, sebagian orang-orang indon yang ga mau ngantri malah menunggu di pintu masuk mal yang seharusnya bukanlah tempat untuk menunggu taksi yang 20 menit sekali baru datang, itupun kebanyakan karena harus mengantar penumpang ke mal, bukan karena kosongan. Di satu sisi harus menunggu taksi, di sisi lain perut semakin meronta pengen diisi. Shit happens!

Karena kaki sudah mati rasa, maka aku ga sanggup lagi membaca diary of a wimpy kid yang baru kebeli di paperclip sementara honhon masih asik membaca majalah kebaya yang baru dibelinya. Akhirnya setelah 2 jam menunggu, dapat taksi juga. Tapi baru aja keluar mal, macetnya semakin menggila. Butuh waktu satu jam antara mal kota kasablanka sampai ke stasiun tebet, padahal dalam keadaan jalan normal cuma ditempuh dalam waktu kurang dari 5 menit. Ngenes!!!

You know what apa yang terjadi setelah sampai di stasiun tebet? Seluruh mobil disuruh putar balik karena kampung melayu kebanjiran. Mau ga mau taksi kami muter balik ke arah tebet-mth-cawang-kalimalang sebelum akhirnya sampe ke rumah honhon di buaran. Tugas mengantar calon istri selesai, tinggal pulang dalam keadaan lemas karena lapar dan ngantuk yang ga ketahan.

Shit berikutnya adalah ternyata sopir taksi mesti balik ke pul karena wajib setor sebelum jam 12 malam, sedangkan jarum jam di jamku sudah menuju ke arah setengah 12. Jadinya, aku minta diturunkan di jalan bkt untuk mencari taksi ke arah kp. melayu. Untungnya ga lama kemudian aku mendapat taksi juga tapi sampai di kp. melayu kami disuruh putar balik lagi karena banjir semakin besar. Setelah dipikir-pikir, mau ga mau aku harus jalan kaki dari kp. melayu ke kostanku di bukit duri.

Selama ini kalau ada berita tentang banjir di jakarta aku hanya bisa merasa iba sambil menatap layar televisi, kali ini bebeda banget. Tepat di depan mataku aku melihat rumah orang yang terndam setengah dari kejauhan. Kali ciliwung di dekat kp. melayu benar-benar sudah rata dengan jalan raya. Aku dan puluhan orang lain mesti membuka sepatu dan mengangkat celana melawan arus banjir yang deras.

Di sisi kanan jalan dimanfaatkan sebagian warga untuk menawarkan jasa dorong motor dan mobil yang terendam dan terjebak di tengah-tengah arus banjir. Di depanku, orang-orang saling membantu mempersiapkan perahu karet untuk mengangkut korban banjir yang masih terjebak di sekitaran kali ciliwung. Suasana yang ramai dan raungan mesin kendaraan seakan membuat semua orang lupa kalau hari sudah berganti rabu. Akhirnya menjelang jam satu pagi aku sampai di kostan. Terkadang aku ga habis pikir kalau kostanku berada di kampung belakang, pastinya aku hanya bisa terdiam melihat rumah yang digenangi air dan pakaian serta peralatan rumah yang ikut tenggelam bersama barang-barang orang lain di kampung belakang kostanku. Ya, memang masih ada syukur di setiap musibah.

7 jam kemudian aku sudah di kantor lagi dan membaca berita kebanjiran yang kualami semalam di detik.com.

5 komentar:

  1. o my god Ayas.. thank God kamu masih bisa update blog dan share sama kita semua. I feel so sorry.. about what happen in Jakarta. Semoga semua masalah bisa teratasi ya.. amien.

    BalasHapus
  2. saya cuma pernah baca tentang banjir Jakarta di koran / liat berita saja.. :(

    BalasHapus
  3. husssshhh...kok mengumpat...nanti Tuhan marah lho...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ngumpat kok, cuma lagi sial aja :D

      Hapus