Selasa, 07 Januari 2014

Kantor lurah ini...

Yang namanya pengalaman itu memang lebih berkesan untuk diceritakan dibanding menceritakan yang diceritakan orang lain. 

Misalnya hari ini, gua sengaja mengurus surat keterangan pindah (skp) kependudukan untuk tujuan pembuatan ktp dan kk baru. Kalo "tetangga" sih nyaranin serahin ke oknum aja biar diurusin. Tapi engga deh, gua mau liat sendiri gimana ribetnya. Dan benarlah adanya. Birokrasi ribet itu memang nyata adanya. Seeing is believing. 

Padahal gua yang masukin berkas pertama, teng jam 8 pagi. Ditungguin satu setengah jam kok ga dipanggil2. Satu setengah jam lho. Itu sudah melewati my boiling point. Eh pas kita nanya baik2 malah si mbak nyolot dengan alasan kalau surat pengantar skp harus dia ketik dulu. Lah tadi kemane aje lo! Ngurusin ktp sama kk orang yg baru masukin berkas setelah gua malahan. 

Mungkin karena merasa bersalah ga lama kemudian dia nulis berkas skp gua di selembar kertas. Terus dia naik ke lantai 2, kayaknya minnta tanda tangan sama stempel. Dan 5 menit kemudian nama gua dipanggil. Nah kan. Cuma ngurus selembar surat pengantar apa susahnya coba. 

Kalau menurut analisis gua. Kayaknya ketidakmampuan sdm di kelurahan ini dalam menentukan skala prioritas pekerjaanlah yang jadi masalah. Di samping itu ga adanya sop tentang pelayanan dan syarat2 pengurusan izin dsb lah yang menambah ruwetnya birokrasi mini ala kelurahan ini. Gua jadi teringat pepatah lama "kejahatan terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir." Well, intinya pemimpinlah seharusnya yang peka terhadap permasalahan instansi yang dipimpinnya. So, hati2lah memilih pemimpin. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar