Rabu, 09 April 2014

Coblos!

Untuk pertama kalinya, saya mencoblos di jakarta. Dengan bermodalkan ktp jakarta yang baru jadi dan surat pengantar KK yang masih proses, saya dan istri pergi ke tps 8 yang berjarak sejengkalan kaki dari rumah. 


Dan tampak terik mataharipun tidak melunturkan semangat warga RT 1,2,3 untuk menggunakan hak suaranya. Dari obrolan ibu2 yang duduk di sebelah, memang terbukti kalau popularitas dan serangan fajar itu sangatlah efektif untuk 'mencuri' hak suara orang2 kalangan menengah ke bawah.

Dengan tingkat pendidikan yang rendah, mereka tidak peduli karena memang tidak bisa berpikir tentang dampak dari hak suara mereka yang secara tidak langsung dimanfaatkan oleh partai2 yang punya kepentingan golongan tentunya. 

Makanya kalau saya lebih setuju hak pemilih diberikan kepada rakyat dengan pendidikan terendah sma. Setidaknya smp. Dengan tingkat pendidikan minimal diharapakan tentunya mereka memiliki sedikit wawasan akan pentingnya memajukan partai2 yang benar2 berpolitik untuk rakyat. 

"Tapi kan itu berarti melanggar hak setiap orang untuj bersuara," kata istriku. Ya benar sekali! Inilah masa dimana HAM mengalahkan kepentingan bangsa. 



6 komentar:

  1. kalau calegnya sudah bagi duit jika jadi nanti tinggal cari duit

    BalasHapus
  2. Persoalannya gini, Mas Ayas.. jumlah penduduk di Indonesia yang sudah tamat SMA cuman 25%, sedangkan yang baru tamat SMP baru 20%. Artinya sekitar 55% penduduk Indonesia paling tinggi cuman lulus SD. Jika persyaratan Pemilu adalah punya ijazah SMP, bisa dipastikan 55% penduduk berusia dewasa di Indonesia nggak akan bisa memilih.

    Negeri Indonesia memang masih dijejali dengan orang-orang tidak berpendidikan layak, Mas. Sialnya orang-orang yang tidak lulus SD ini masih banyak yang berperan besar untuk menggerakkan perekonomian dan "hukum" di kawasan pedesaan. Populasi kelompok penduduk inilah yang mesti diberikan pendidikan politik sedemikian rupa supaya tidak sampai memilih caleg yang "salah". Kuncinya ya mereka harus bisa diedukasi. Tinggal mikirkan gimana caranya mengedukasi kelompok penduduk ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mmm tajem dan mendalam komennya. saya suka. terima kasih masukannya bisa menambah pengetahuan saya mb.

      Hapus
  3. Begitu lah demokrasi di negri ini ya :)

    BalasHapus