Jumat, 16 Mei 2014

pns backpacker


Perjalanan ke perpustakaan kantor sehabis jumat ini mempertemukanku dengan buku repacking your back. Buku ini mengajarkan bagaimana mengurangi beban hidup semu yang sebenarnya hanya ada di pikiran kita sendiri karena begitulah kita memandang beban itu selama ini.

Sebagai auditor internal pemerintah, judul buku ini saja secara harpiah sudah berasa pas dengan tugasku yang tidak lepas dari backpack dikarenakan dinas luar tiap bulan yang kujalani. 

Lucunya, aku menyadari bagaimana jenis tas yang kita bawa ternyata memang dapat mencerminkan tipe kepribadian si pembawa tas. Setelah dipikir-pikir masup akal juga. Aku yang lebih suka tipe tas simpel dengan warna dominan lebih cenderung merupakan seorang yang simple dan pragmatis. Ada juga temanku yang sering membawa tas beserta perlengkapan yang heboh ternyata serupa dengan kepribadiannya yang memang rempong. 

Dilihat dari sudut pandang kehidupan, kebanyakan kita juga terlalu fokus kepada hal-hal yang tidak kita sukai sehingga mau tidak mau hal tersebut pun akan masuk ke dalam backpack kita. Bayangkan kalau semua barang kita jejalkan kedalam backpack, lama kelamaan backpack akan rusak. Backpack itu adalah kehidupan kita yang amat berharga. Backpack itu adalah pikiran kita sendiri. 

Lalu bagaimana agar kita dapat membawa backpack itu sampai tujuan? Semua kita tahu jawabannya tapi tidak semua dari kita mau untuk melakukannya, bukan?

Ya! Jawabannya kurangi bebannya! Pilah dan pilih bawaanmu! Tentukan skala prioritasnya! Untuk itu, ada satu lagi, pertanyaan mendasar yang harus kita jawab. Mau kemana tujuan kita?

Ini yang menarik dari buku ini. Dihubungkan dengan bidang pekerjaanku sebagai pns, yang jauh sebelumnya sangat kuhindari, aku sempat bingung menjawab pertanyaan ini yang serupa di buku yang berbeda yang pernah kubaca. Tapi sekarang aku tahu jawabannya. Yaitu, Bukan aku yang memilih pekerjaanku tapi pekerjaan itulah yang sudah memilihku. 

Setelah kudalami, menjadi auditor dengan permasalahan yang berbeda setiap bulannya dan berhadapan dengan orang-orang dengan  tipe dan sifat yang berbeda serta pekerjaan "nomaden" yang kulakukan seperti inilah yang sebenarnya kucari karena itulah passionku. Setelah mengetahui passion, sungguh mudah memaknai tujuan hidup yang selama ini kusadari, bahagia. 

Ratusan psikolog di ribuan buku pengembangan diri yang pernah kubaca pun setuju untuk hal satu ini. Secara naluri manusia menginginkan kebahagian. Karena disitulah ketenangan dan ketenteraman hati akan berlabuh. Tapi ketidaktahuan akan passion ataupun ketidakmampuan mengendalikan nafsulah yang membuat kebanyakan dari kita tidak sampai ke pelabuhan bahagia sejati. 

Integritas merupakan kata kunci yang diajarkan di buku ini. Berasal dari bahasa latin, integer, yang artinya 'utuh'. Ketika kehidupan kita tidak dilakukan dengan cara yang benar wajarlah keutuhan hidup tidak akan tercapai. Lagi-lagi inti ini pun sangatlah pas kalau disandingkan dengan pekerjaan kita semuanya. Ambil contohnya aku saja. Betapa hitam putih dunia audit sudah menjadi rahasia umum. Deal sana deal sini dapat menghilangkan temuan rupiah. Tetapi ketika integritas atas pekerjaan benar-benar ditegakkan, bahagia itu akan datang dengan sendirinya. Alhamdulillah itulah yang sekarang kurasakan. Dan alhamdulillan karena itu jugalah takdir mempertemukanku dengan buku ini. 

Udahan dulu ah tulisan spontan membahas buku ini. Udah ngaret setengah jam dari waktu istirahat. Kemane integritas gue kalo begitu *tepokjidat*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar